Manila, IPNews.com - Negara-negara anggota ASEAN berkomitmen meningkatkan perdagangan intra-ASEAN, salah satunya dengan membuka konektivitas perdagangan laut Indonesia-Filipina melalui pelayaran kapal RoRo Bitung-General Santos-Davao City. Komitmen ini dikukuhkan pada Pertemuan ASEAN Economic Ministerial (AEM) Retreat ke-23 dan pertemuan lainnya dimulai pagi ini di Manila, Filipina.
Hal ini ditegaskan Direktur Jenderal Perdagangan Perundingan Internasional Iman Pambagyo di sela-sela pertemuan ke-23 AEM Retreat dan pertemuan ke-15 AEM-European Union Trade Comissioner Consultations baru-baru ini, di Metro Manila, Filipina. Rangkaian pertemuan tersebut berlangsung pada 8-10 Maret 2017.
“Pembangunan konektivitas ini, selain meningkatkan perdagangan intra-ASEAN, juga akan meningkatkan perdagangan di kawasan timur Indonesia. Konektivitas Indonesia-Filipina, khususnya antara Sulawesi Utara untuk wilayah Timur Indonesia, dengan Filipina bagian Selatan melalui pelayaran kapal RoRo direncanakan diresmikan pada April mendatang,” jelas Iman.
Sejarah perdagangan antara Indonesia-Filipina sudah terjalin sejak lama. Saat ini juga sudah banyak produk Indonesia yang dapat dengan mudah ditemukan di pasar Filipina, seperti minuman kemasan, sabun, pasta gigi, kopi instan, minuman berenergi, tas, bahkan busana muslim. Namun produk-produk tersebut kebanyakan masih masuk Filipina lewat dari negara ketiga.
“Banyak masyarakat Filipina di bagian selatan yang sudah menggunakan produk-produk dari Indonesia, tapi tidak mengetahui asal produk tersebut. Hal ini salah satunya dikarenakan barangbarang tersebut masuk dari negara ketiga,” jelas Iman.
Berdasarkan data dari Philippine Statistics Authority (PSA) Filipina yang diolah Atase Perdagangan Manila, nilai ekspor produk Indonesia ke Filipina pada tahun 2016 mencapai USD80,83 miliar. Jumlah ini meningkat sebesar 21,22% dibandingkan tahun 2015 yang mencapai USD 66,68 miliar.
Dengan pembukaan konektivitas laut ini, lanjut Iman, kedua negara akan memperoleh manfaat yang besar. “Bagi Indonesia, salah satunya akan menjadikan harga produk-produk yang diekspor ke Filipina lebih bersaing karena tidak perlu melalui negara ketiga,” imbuhnya.
Menurut Iman, konektivitas bagi Indonesia tidak hanya dibangun di dalam negeri tetapi juga dengan wilayah-wilayah di luar Indonesia “Untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal, kita perlu mendorong wilayah-wilayah lain di Indonesia, seperti Ambon dan Maluku untuk memanfaatkan konektivitas ini,” katanya.
Menuju ASEAN 2025 AEC Blueprint 2025 atau ASEAN Economic Community (AEC) Consolidated Strategic Action Plan (CSAP) 2025 yang diluncurkan tahun lalu menjadi salah satu isu utama pada pertemuan kali ini.
Salah satu sektor yang diangkat adalah akses pembiayaan/modal bagi usaha kecil dan menengah (UKM). “Indonesia menaruh perhatian pada pengembangan UKM dan ingin memastikan bahwa UKM akan mendapatkan manfaat yang optimal dari AEC,” tegas Iman.
- Danrem Dikuasai Kolonel Angkatan 1990-an, Anak Try Sutrisno dan Menantu Luhut Bersaing Jadi Jenderal
- Menyigi Potensi Peraih Adhi Makayasa Polri Beroleh Pangkat Tertinggi
- Kursi Jenderal untuk Jebolan Akademi TNI 1993
- Tahun 2015 Jumlah Pengguna Narkoba di Indonesia Capai 5 juta orang
- Bintang Terang Alumni Akmil 1989
PINews.co, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus menegaskan kom
- Pengembang Panas Bumi Bersatu Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Bencana
- Penyempurnaan Kebijakan Fiskal Hulu Migas Dibutuhkan untuk Mencapai Target Produksi Migas
- Perizinan Kegiatan Usaha Hulu Migas Wajib Disempurnakan
- Forum Manajemen Risiko Pertamina 2025: Pertamina NRE Ubah Risiko Jadi Peluang
