London, PINews.com - Setelah tahun 2011 sempat menyuarakan pelarangan aplikasi chatting dan media sosial seperti WhatsApp, BBM, Twitter dan Facebook, kini Perdana Menteri Inggris David Cameron kembali menyemburkan wacana tersebut.
Hal ini tidak lain adalah buntut dari penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo di Prancis yang menewaskan 12 orang awak jurnalis.
Menurut Cameron seperti yang dilansir dari Cnet, aplikasi Instant Messanger seperti WhatsApp, BBM, Snapchat, Apple iMessage adalah sarana yang rawan dijadikan tempat berkomunikasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti teroris misalnya.
“Apakah kita ingin menyediakan sarana komunikasi antar ekstrimis?" kata Cameron.
Proses enkripsi di aplikasi instant messengertidak memungkinkan siapapun, termasuk pemerintah, untuk "menguping" percakapan orang lain.
Kita tunggu saja, apakah salah sat negara termaju di dunia akan kembali mundur ke zaman batu dengan dilarangnya berbagai aplikasi instant messanger?
- Danrem Dikuasai Kolonel Angkatan 1990-an, Anak Try Sutrisno dan Menantu Luhut Bersaing Jadi Jenderal
- Menyigi Potensi Peraih Adhi Makayasa Polri Beroleh Pangkat Tertinggi
- Kursi Jenderal untuk Jebolan Akademi TNI 1993
- Tahun 2015 Jumlah Pengguna Narkoba di Indonesia Capai 5 juta orang
- Bintang Terang Alumni Akmil 1989
PINews.co, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus menegaskan kom
- Pengembang Panas Bumi Bersatu Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Bencana
- Penyempurnaan Kebijakan Fiskal Hulu Migas Dibutuhkan untuk Mencapai Target Produksi Migas
- Perizinan Kegiatan Usaha Hulu Migas Wajib Disempurnakan
- Forum Manajemen Risiko Pertamina 2025: Pertamina NRE Ubah Risiko Jadi Peluang
